Pandhalungan.com, Jember – Sinergi antara dunia akademik dan kebutuhan industri kembali membuahkan hasil. Sebuah tim kolaborasi antara mahasiswa Teknik Mesin dan Teknik Pertambangan Universitas Jember berhasil menciptakan inovasi berupa Mesin Granulator Pupuk Organik berbasis limbah batu gamping.
Mesin ini dirancang untuk menjawab persoalan lingkungan sekaligus mendukung ketahanan pangan nasional melalui penyediaan pupuk yang terjangkau bagi petani.
Didampingi Koordinator Progam Studi S2 Teknik Mesin UNEJ Prof Mahros Darsin, mahasiswa Teknik Mesin Universitas Jember Iwan Ahmad yang terlibat langsung dalam proses pembuatan, menjelaskan bahwa pengembangan alat ini memakan waktu sekitar tiga bulan.
Satu bulan dialokasikan untuk tahap persiapan dan desain, sementara dua bulan sisanya difokuskan pada proses fabrikasi di Laboratorium Manufaktur Teknik Mesin.
"Komponen utamanya meliputi plat besi dan pipa galvanis tahan karat untuk bagian roller. Kami menggunakan motor berkapasitas 1.500 Watt dengan speed reducer tipe WPA rasio 1:50 untuk meningkatkan torsi," ujar Iwan.
Baca Juga: Di Rakernas, Prabowo Janjikan Indonesia Bebas Ketergantungan Luar Lewat Biosolar Sawit
Menurut Iwan, mesin ini memiliki keunikan tersendiri karena mengintegrasikan fungsi pengaduk (mixer) dan granulator dalam satu sistem.
"Ini adalah desain baru di Indonesia. Kami merancangnya dari nol tanpa menggunakan cetak biru dari perusahaan mana pun karena kami ingin alat ini benar-benar efektif mengolah bahan baku yang ada," tambahnya.
Sementara itu, Ketua Tim Peneliti sekaligus Akademisi Teknik Pertambangan UNEJ, Rina Lestari, mengungkapkan bahwa ide awal penelitian ini bermula dari keprihatinan terhadap menumpuknya limbah batu gamping di perusahaan tambang Desa Grenden, Kecamatan Puger.
Baca Juga: Prabowo Kumpulkan Kepala Daerah, Komisi II: Dukung Program Prioritas Presiden
"Kami melihat ada sisa limbah batu gamping yang tidak laku terjual. Harganya sangat murah, hanya sekitar Rp 100 per kilogram. Melalui dana hibah inovasi industri dari LP2M, kami berupaya menaikkan nilai ekonomi limbah tersebut dengan mengolahnya menjadi pupuk," jelas Rina.
Meskipun batu gamping bersifat anorganik, tim mencampurnya dengan bahan-bahan organik lain untuk memenuhi standar pupuk organik yang berkualitas. Komposisi pupuk tersebut meliputi batu gamping sebagai bahan dasar, fosfat untuk meningkatkan kadar nutrisi, kotoran sapi yang telah difermentasi, serta tetes tebu sebagai pengikat dan tambahan nutrisi.
Artikel Terkait
Prabowo Kumpulkan Kepala Daerah, Komisi II: Dukung Program Prioritas Presiden
Di Rakernas, Prabowo Janjikan Indonesia Bebas Ketergantungan Luar Lewat Biosolar Sawit
Menteri Nusron Wahid Tegaskan Sepanjang Tahun 2026 Tak Boleh Lagi Terjadi Penumpukan Berkas Pertanahan