Sabtu, 18 April 2026

Bukan Gitar, Ariel NOAH Bawa Nostalgia Dilan 1997 ke Hadapan Mahasiswa FISIP UIN Jakarta

Photo Author
Agus Sugiyanto, Pandhalungan.com
- Jumat, 17 April 2026 | 06:32 WIB
Ariel NOAH mencoba menghidupkan kembali memori kolektif tentang Dilan. Kali ini, ia membawa romansa dan idealisme mahasiswa ITB 1997 ke hadapan mahasiswa UIN Jakarta. Foto istimewa
Ariel NOAH mencoba menghidupkan kembali memori kolektif tentang Dilan. Kali ini, ia membawa romansa dan idealisme mahasiswa ITB 1997 ke hadapan mahasiswa UIN Jakarta. Foto istimewa

Pandhalungan.com - Dari panggung musik ke layar lebar, Ariel NOAH mencoba menghidupkan kembali memori kolektif tentang Dilan. Kali ini, ia membawa romansa dan idealisme mahasiswa ITB 1997 ke hadapan mahasiswa UIN Jakarta.

Aula Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta tak seperti biasanya. Tak ada debat teologis atau diskusi politik yang berat. Sebagai gantinya, sebuah layar besar menampilkan visual yang membangkitkan nostalgia, sosok pemuda dengan jaket jin di atas motor, diiringi tipografi khas yang terbaca jelas, "Nongkrong Bareng Dilan ITB 1997".

Baca Juga: Ciptakan Petugas Andal, KAI Daop 7 Madiun Gelar Diklat Refreshing PPKA

Di balik podium transparan, berdiri seorang pria berjas biru. Namun, tatapan ratusan pasang mata di ruangan itu tertuju pada pria di sebelahnya: Nazril Irham. Publik lebih mengenalnya sebagai Ariel NOAH. Hari itu, ia tidak datang untuk memetik gitar, melainkan untuk mempertanggungjawabkan perannya sebagai "Panglima Tempur" versi dewasa.

Kehadiran Ariel di Ciputat pada Rabu (17/4) adalah bagian dari safari promosi film Dilan ITB 1997. Di bawah arahan sutradara Fajar Bustomi, film ini mencoba memotret transisi Dilan—dari remaja Bandung yang gemar tawuran menjadi mahasiswa Seni Rupa ITB yang mulai bersentuhan dengan realitas sosial.

Baca Juga: Viral Kakek Ojek Baturaja Sumsel Merayu Siswi SMP, Minta Peluk dan Cium Setelah Pulang Sekolah

"Ini tantangan besar," ujar Ariel dengan suara baritonnya yang khas, disambut riuh rendah mahasiswa. Ia sadar betul ada beban sejarah di pundaknya. Karakter Dilan telah begitu identik dengan Iqbaal Ramadhan. Menggantikan sosok itu di layar lebar ibarat mencoba mengganti vokalis sebuah band yang sedang di puncak ketenaran.

Namun, menurut Ariel, restu dari Pidi Baiq—sang kreator semesta Dilan—adalah kuncinya. "Ayah (Pidi Baiq) meyakinkan saya bahwa Dilan dewasa butuh kedewasaan yang berbeda," tambahnya. Dilan di tahun 1997 bukan lagi sekadar pemuda yang jago menggombal di telepon umum, melainkan ia yang hidup di tengah gejolak politik menjelang Reformasi 1998.

Baca Juga: Jelang Pengangkatan dan Pengambilan Sumpah Advokat FERADI WPI di Pengadilan Tinggi Surabaya

Diskusi di aula FISIP tersebut mengalir melampaui sekadar promosi film. Mahasiswa tampak antusias membedah proses kreatif Ariel dalam mendalami karakter yang puitis namun melankolis. Suasana semakin hangat ketika dibahas mengenai soundtrack terbaru berjudul "Dulu Kita Masih Remaja" yang baru saja dirilis Ariel untuk membungkus nuansa era 90-an dalam film tersebut.

Bagi mahasiswa UIN Jakarta, kehadiran Ariel bukan sekadar melihat selebritas. Ini adalah pertemuan dua dunia: romantisme fiksi masa lalu dan realitas akademis masa kini. Di podium FISIP, Ariel seolah menegaskan bahwa meski zaman berganti dan pemeran berganti, "ruh" Dilan yang idealis tetap relevan.

Baca Juga: Konsisten Memperjuangkan Pesantren, Fraksi PKB DPR RI Raih KWP Award 2026

Saat film ini tayang serentak pada 30 April mendatang, publik akan membuktikan sendiri: apakah Ariel mampu menghidupkan kembali kerinduan akan sosok Dilan, atau justru ia menciptakan ikon baru bagi generasi yang berbeda. Satu yang pasti, siang itu di Ciputat, sang Panglima Tempur telah berhasil merebut hati para mahasiswa.(Zainul)

Editor: Agus Sugiyanto

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X