Minggu, 19 April 2026

Pengamat ingatkan Risiko Bunga Utang Tembus Rp 600 Triliun bagi APBN 2026

Photo Author
Agus Sugiyanto, Pandhalungan.com
- Minggu, 8 Februari 2026 | 18:23 WIB
Foto ilustrasi
Foto ilustrasi

Pandhalungan.com, JAKARTA -- Pengamat ekonomi Dr. Noviardi Ferzi menilai lonjakan beban bunga dan cicilan utang pada APBN 2026 menjadi sinyal peringatan serius bagi ketahanan fiskal Indonesia.

Ia menyebut, meningkatnya kewajiban pembayaran utang berpotensi memangkas ruang belanja produktif pemerintah.

Merujuk laporan International Debt Report 2025 Bank Dunia, Noviardi menjelaskan bahwa total utang negara berkembang telah mencapai US$8,9 triliun pada 2024, dengan pembayaran bunga global menembus rekor US$415,4 miliar. Tekanan ini ikut dirasakan Indonesia.

Baca Juga: Dua Tahun Kasus Dugaan Korupsi Kegiatan Workshop Wasbang Anggota DPRD Jatim Zeiniye, Ini Harapan Pelapor Khusus Untuk Penyidik KPK

“Pada 2026 pemerintah kembali menerbitkan utang baru sekitar Rp833 triliun, sementara beban pembayaran pokok dan bunga mendekati Rp600 triliun. Ini melonjak tajam dibanding 2020 yang masih sekitar Rp338 triliun. Artinya, hampir seperempat belanja negara terserap hanya untuk kewajiban utang,” kata Noviardi, Minggu, 8 Februari 2026.

Ia menambahkan, hingga akhir 2025 total utang nasional (pemerintah, Bank Indonesia, dan swasta) telah mencapai sekitar Rp9.138 triliun, dengan utang luar negeri pemerintah berada di kisaran US$210 miliar atau setara Rp3.300–3.400 triliun.

Baca Juga: Prajurit Yonif 509 Kostrad Tunjukkan Semangat Juang di Infanteri Night Run Bondowoso 2026

Menurut Noviardi, meskipun rasio utang terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) masih dijaga di bawah 40 persen, indikator debt service ratio kini berada di level 39,9 persen, mendekati batas kewaspadaan fiskal.

“Secara regulasi memang masih aman, tapi secara substansi APBN sudah masuk fase lampu kuning. Jika tren ini berlanjut, belanja strategis seperti pendidikan, kesehatan, dan penguatan UMKM bisa semakin terdesak,” tegasnya.

Noviardi, meskipun rasio utang terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) . Foto istimewa

Noviardi juga mengapresiasi langkah pemerintah yang memperbesar porsi pembiayaan dalam negeri melalui Surat Berharga Negara (SBN) serta memperluas investor ritel lewat ORI, SBR, dan sukuk. Namun, menurutnya pendekatan tersebut perlu dibarengi terobosan pembiayaan non-utang.

Baca Juga: Letkol Juni Bangga Capaian Prajuritnya Tunjukkan Jiwa Petarung di Peace Love Colour Run Jember 2026

Selain itu ia mendorong percepatan kerja sama pemerintah dan badan usaha (KPBU), optimalisasi sovereign wealth fund Danantara, pemanfaatan dana sosial keagamaan seperti zakat dan wakaf produktif, serta pengembangan bursa karbon sebagai sumber devisa baru.

Halaman:

Editor: Agus Sugiyanto

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Alasan Bitcoin Gagahi Emas dan Balik ke US$70 Ribu

Kamis, 26 Maret 2026 | 07:14 WIB
X