Pandhalungan.com, Garut - Di Desa Mandala Kasih, Kecamatan Pameungpeuk, Kabupaten Garut, sungai bukan sekadar bentang alam. Bagi anak-anak sekolah di desa ini, aliran sungai justru kerap menjadi ancaman. Setiap pagi, sebelum jembatan gantung berdiri, mereka harus menyeberangi sungai demi bisa duduk di bangku sekolah.
Babinsa Desa Mandala Kasih, Serka Imat, masih mengingat betul pemandangan itu. Anak-anak berseragam sekolah menunggu air surut, atau nekat menyeberang di antara arus yang kerap berubah ganas.
Baca Juga: Jembatan Gantung Cisurupan Garut Hadir, Pelajar Tak Lagi Bolos Sekolah karena Terhadang Banjir
“Kami agak miris waktu sebelum jembatan didirikan karena anak-anak sekolah harus menyeberang. Seperti yang dilihat, di bawah ada aliran sungai yang menjadi satu. Sungai Cikaso dan Sungai Cipalebuh lalu bermuara di Leuwi Niis, Desa Mandala Kasih, sehingga luapan air yang mengalir dari hulu ke hilir itu cukup besar,” kata Serka Imat saat ditemui di jembatan gantung Cipalebuh, Pameungpeuk, Garut, Jumat (23/1).
Pertemuan dua sungai tersebut membuat debit air di kawasan itu sulit diprediksi. Ketika hujan turun di wilayah hulu, arus di Mandala Kasih bisa mendadak membesar. Kondisi sungai yang perlahan mendangkal justru memperparah keadaan, karena volume air terus meningkat tanpa ruang tampung yang memadai.
Baca Juga: Dapat Becak Listrik, Penarik Becak Sidoarjo Ramai-ramai Panjatkan Doa untuk Prabowo
Tak heran, jembatan di lokasi ini berkali-kali tumbang diterjang banjir. “Karena kapasitas air dan juga keadaan sungai yang sekarang sudah mulai mendangkal, sedangkan kapasitas air selalu bertambah. Itu yang menyebabkan kerusakan jembatan di masa yang sudah-sudah,” ujar Serka Imat.
Kini, jembatan gantung yang menghubungkan Kampung Punaga Jolok RW 09 dan Kampung Baru RW 08 menjadi pembangunan keempat di lokasi tersebut. Jembatan ini memiliki panjang sekitar 80 meter dan lebar 1,20 meter. Ukurannya mungkin sederhana, tetapi manfaatnya sangat menentukan kehidupan warga.
Baca Juga: Eks Pejabat PBB: Stablecoin Lebih Berguna untuk Kirim Bantuan ke Afrika
Pembangunan jembatan kali ini dilakukan dengan penuh kehati-hatian. Pengalaman banjir, korosi akibat udara pantai, hingga kegagalan material pada jembatan sebelumnya menjadi pelajaran penting. Proses pengerjaan melibatkan TNI, relawan, serta warga dari dua kampung. Mereka bekerja sejak pagi hingga dini hari, berpacu dengan cuaca yang tak selalu bersahabat.
Bagi Serka Imat, pembangunan jembatan ini bukan sekadar tugas kedinasan. Ada rasa tanggung jawab sebagai pembina wilayah yang terbayar ketika jembatan akhirnya berdiri dan bisa digunakan masyarakat.
Baca Juga: Kasus PHK Terkatung, Komisi IX Sukses Jembatani Audiensi Karyawan-Direksi ASDP
“Saya sebagai pembina Desa Mandala Kasih selalu berkoordinasi dengan pihak desa, terutama dengan Bapak Kepala Desa dan juga Muspika di Kecamatan Pameungpeuk. Alhamdulillah setiap yang kami rencanakan atau kami usulkan bisa terealisasi sehingga kami sangat merasa bangga,” tuturnya.