Minggu, 19 April 2026

Gus Fawait: Pemkab Jember Gelar Kupatan, Perkuat Silaturahmi dan Nilai Idul Fitri

Photo Author
Agus Sugiyanto, Pandhalungan.com
- Kamis, 26 Maret 2026 | 08:22 WIB
Bupati Jember Gus Fawait gelar kupatan di pendopo. Foto istimewa pandhalungan
Bupati Jember Gus Fawait gelar kupatan di pendopo. Foto istimewa pandhalungan

Pandhalungan.com, Jember - Pemerintah Kabupaten Jember menggelar kegiatan kupatan bersama masyarakat di Pendopo Wahyawibawagraha pada Rabu (25/3/2025) sebagai bagian dari perayaan Hari Raya Idul Fitri. Kegiatan ini dipimpin langsung oleh Bupati JemberGus Fawait, dengan menegaskan pentingnya menjaga tradisi sekaligus memperkuat nilai spiritual dan sosial di tengah masyarakat.

Dalam penyampaiannya, Gus Fawait mengungkapkan bahwa pelaksanaan kupatan tahun ini menjadi pilihan utama pemerintah daerah dalam merayakan Idul Fitri, seiring dengan tidak diselenggarakannya kegiatan open house. Keputusan tersebut diambil sebagai bentuk kepatuhan terhadap arahan pemerintah pusat.

Baca Juga: Efesiensi Energi Nasional, Gus Fawait: Pemkab Jember Siapkan Skema WFH

“Kami tidak mengadakan open house tahun ini karena mengikuti anjuran dari pemerintah pusat. Namun hal ini tidak mengurangi makna Idul Fitri, justru kita kuatkan melalui tradisi kupatan yang lebih membumi dan penuh makna,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa ibadah puasa Ramadan yang telah dijalani selama 30 hari merupakan sarana penyucian diri dari dosa kepada Allah SWT. Namun demikian, hubungan antarsesama manusia harus disempurnakan melalui saling memaafkan, yang menjadi inti dari tradisi kupatan dan silaturahmi.

Baca Juga: *Tanggung Jawab atas Tindakan Oknum BAIS, Kepala BAIS TNI Mundur*

“Puasa Ramadan menghapus dosa kepada Allah, tetapi dosa kepada sesama hanya bisa diselesaikan dengan saling memaafkan. Tradisi kupatan inilah yang menjadi ruang untuk itu,” jelasnya.

Bupati Jember Gus Fawait gelar kupatan bersama ketua DPRD kabupaten Jember. Foto istimewa pandhalungan

Lebih lanjut, Gus Fawait menyoroti bahwa tradisi kupatan merupakan warisan ulama Nusantara yang memiliki nilai luhur dalam membangun harmoni sosial. Tradisi seperti halal bihalal, silaturahmi, hingga budaya “ngelencer” menjadi kekayaan khas Indonesia yang tidak banyak ditemukan di negara lain.

Baca Juga: Alasan Bitcoin Gagahi Emas dan Balik ke US Ribu

Menurutnya, menjaga tradisi tersebut bukan hanya soal budaya, tetapi juga bagian dari upaya mempererat persaudaraan dan merawat nilai kebersamaan di tengah masyarakat. Dalam kesempatan tersebut, ia juga mengajak masyarakat untuk memanfaatkan momentum Idul Fitri sebagai waktu terbaik untuk saling mendoakan. Ia berharap doa-doa yang dipanjatkan dalam kondisi hati yang bersih dapat membawa kebaikan bagi bangsa dan daerah.

Kegiatan kupatan ini sekaligus menjadi bentuk penghormatan terhadap tradisi dan leluhur. Melalui kebersamaan dan doa yang dipanjatkan, masyarakat diajak untuk mengenang serta mendoakan para pendahulu agar mendapatkan ampunan dan keberkahan.

Baca Juga: *Aceh Mulai Bangkit, Pelabuhan Ulee Lheue Dipadati Wisatawan Sambut Kemeriahan Idulfitri*

“Dengan menjaga tradisi ini, kita tidak hanya mempererat silaturahmi, tetapi juga mengingat jasa para leluhur serta memohonkan doa terbaik untuk mereka,” imbuhnya.

Halaman:

Editor: Agus Sugiyanto

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X