Pandhalungan, Sukoharjo — Upah dari menjahit tak cukup bagi Nur Alisa, warga Sukoharjo, Jawa Tengah, untuk keluar dari jeratan utang. Jangankan untuk membayar utang, untuk kehidupan sehari-hari saja dia selalu was-was.
Sebagai penjahit, Alisa hanya bisa mengumpulkan uang sekitar Rp 150 ribu hingga Rp 200 ribu dalam seminggu. Sementara, suaminya yang bekerja sebagai kuli bangunan berpenghasilan rata-rata per hari Rp 100 ribu.
Walaupun digabung, penghasilan mereka belum cukup untuk memenuhi kebutuhan tiga orang anak. Apalagi untuk mencicil melunasi utang.
Baca Juga: Jelang Hari Raya, Pemkab Jember Buka Pendaftaran Mudik Gratis 2026, Berikut Penjelasan Dishub Jember
“Sekarang saya kerja di SPPG (Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi/dapur MBG). Alhamdulillah, bisa sedikit melunasi utang sama bisa mencukupi kebutuhan anak, buat bayar sekolah,” kata dia.
Anak Alisa paling besar adalah siswa kelas 1 MTs, anak kedua masih duduk di bangku taman kanan-kanan (TK). Sementara anak ketiga masih berumur tiga tahun.
Kini, Alisa diterima bekerja di SPPG Polokarto Sukoharjo. Alisa juga masih bisa menyambi menjahit.
Baca Juga: Progres 56,6 Persen, Kodim 0106/Aceh Tengah Kebut Pembangunan Jembatan Gantung Desa Burlah
Dia berharap program MBG ini tetap bisa terus berlanjut. Selain untuk kebutuhan nutrisi anak-anak Indonesia, kebutuhan sehari-harinya juga bisa terpenuhi.
“Mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya atas program ini. Bisa membantu ekonomi keluarga saya, bisa menyekolahkan anak saya. Alhamdulillah teman-temannya juga baik-baik semua,” kata Alisa.
“Terima kasih Pak Prabowo (Presiden RI Prabowo Subianto). Semoga Pak Prabowo sehat terlalu, sukses selalu, dapat mengayomi warganya,” tutup dia.