Minggu, 19 April 2026

*Cara Gen Z Menanti Buka Puasa di Imlek Festival 2577: Memahami Keberagaman Lewat Museum Akulturasi*

Photo Author
Holiyadi, Pandhalungan.com
- Rabu, 25 Februari 2026 | 20:01 WIB
Foto Istimewa Pandhalungan.com
Foto Istimewa Pandhalungan.com

 

Pandhalungan.com, Jakarta - Museum Akulturasi yang hadir pada Imlek Festival 2577 di Lapangan Banteng, Jakarta, memberikan pengalaman tersendiri bagi masyarakat, terutama dari kalangan generasi Z. 

Selain menambah pengetahuan, keberadaan museum ini juga cocok untuk menunggu waktu berbuka puasa. Tahun ini, perayaan Imlek menjadi spesial karena bertepatan dengan bulan Ramadan.

Muhammad Shidqi, salah satu pengunjung Museum Akulturasi, mengaku mendapat wawasan baru mengenai sejarah perjumpaan budaya Tionghoa dan Nusantara di Indonesia. 

Baca Juga: *Diburu Pencari Takjil, Imlek Festival 2577 Jadi Berkah bagi UMKM*

Di museum ini, informasi tersaji melalui papan yang menyerupai gapura. Papan-papan itu tersusun dengan pola zig-zag sehingga memudahkan pengunjung memahami alur cerita sejarah. 

"Barusan aku baca-baca, bener-bener insightful. Aku baca sejarah-sejarahnya, aku baru tahu, oh, ternyata kayak gini loh (sejarah akulturasi budaya Tionghoa dan Nusantara) di Indonesia, gitu,” ujarnya Selasa (24/2). 

Melalui Museum Akulturasi, Shidqi sadar jika budaya Tiongkok dengan Nusantara bisa hidup berdampingan. 

Baca Juga: Yonif 515 UTY/9/2 Kostrad Gelar Tradisi Penyambutan Warga Baru

"Di Indonesia full of culture-lah ya. Terlebih akulturasi budaya Cina masuk ke Indonesia tuh bukannya nabrak, tapi dia justru smooth ke budaya-budaya Nusantara yang udah ada. Jadi, ya bener-bener akulturasi budayanya klop,” katanya.

Selain terpukau dengan keberadaan Museum Akulturasi, Shidqi senang dengan keberadaan Imlek Festival ini. Dia berharap kegiatan serupa yang memadukan hiburan dan budaya dapat terus bermunculan. 

Baca Juga: Era Baru Perdagangan Dunia, Indonesia Punya Modal Kuat Hadapi Dinamika Global

Ia mendorong ruang dialog lintas agama yang lebih inklusif, terutama bagi generasi muda. Misalnya forum antar-umat dari generasi muda.

“Coba bikin yang lebih Gen Z, gitu. Misalnya kita bikin komunitas-komunitas yang emang disediakan untuk lintas agama dan untuk saling diskusi anak-anak muda. Menurut aku bakal lebih impactful. Banyak karya-karya yang bisa lahir dari ruang-ruang semacam itu,” kata dia. 

Andre dan Meliana, pengunjung lain, mengaku mendapat wawasan baru dengan hadirnya Museum Akulturasi. Menurut mereka, kehadiran Imlek Festival pertama di Indonesia ini tak hanya menjadi ajang hiburan dan kuliner, tetapi juga menghadirkan ruang edukatif bagi pengunjung.

Halaman:

Editor: Holiyadi

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X