Pandhalungan.com - Pelemahan nilai tukar rupiah disebabkan oleh ketidakpastian global yang meningkat, baik dalam hal geopolitik maupun suku bunga AS atau fed fund rate. Sementara itu, fundamental ekonomi nasional masih baik.
Terlihat dari pertumbuhan ekonomi yang masih di atas 5%, inflasi terjaga di sekitar 3% dan defisit transaksi berjalan atau current account deficit yang aman.
"Fundamental kita masih sangat baik, kebijakan sudah sinkron dengan otoritas moneter, ekonomi akan makin cepat, investor akan masuk, rupiah menguat, pasar modal juga menguat," jelasnya.
Menteri Keuangan (Menkeu) Indonesia Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan bahwa pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang nyaris tembus Rp17.000 tak akan memicu krisis ekonomi.
"Enggak perlu khawatir rupiah akan memicu krisis ekonomi. Jauh dari itu, arena fundamental ekonominya masih amat baik, kebijakan sudah sinkron dengan otoritas moneter, ekonomi akan makin cepat, investor akan masuk, rupiah menguat, pasar modal juga menguat," ujar Purbaya di kantor Direktorat Jenderal Pajak, Kamis (22/01).
Purbaya pun menyoroti bagaimana pertumbuhan ekonomi masih berada di atas 5%, inflasi di sekitar 3% dan defisit transaksi masih di level yang aman. Terlebih, Bank Indonesia (BI) masih menjaga stabilitas rupiah. (Mza)
Artikel Terkait
DPP PKB Sosialisasikan SK DPW Se-Indonesia, Gus Halim: Menang Tanpa Tata Kelola Itu Sia-sia
Bupati Gus Fawait Lantik 190 Pejabat Administrator dan Pengawas di Lingkungan Pemkab Jember Tahun 2026
Kepedulian AKBP Dr. Aryo Dwi Wibowo Pimpin Langsung Pencarian Korban Tenggelam di Sungai Sampean Baru