ekonomi-bisnis

Analis Ekonomi Politik Pasar Saham Indonesia Masuki Fase Transisi: Reli IHSG Dinilai Rentan dan Bersifat Sementara

Senin, 13 April 2026 | 08:35 WIB
Foto ilustrasi IHSG

Dari sisi sektoral, Kusfiardi menilai pasar mulai memasuki fase selektif, di mana tidak semua sektor bergerak searah.

Baca Juga: Digagas Prabowo, Sekolah Rakyat Selamatkan Anak Yatim Sejak Bayi yang Sempat Putus Sekolah dan Hobi Tawuran

“Saham berbasis komoditas energi dan emiten dengan pendapatan dolar AS cenderung menjadi natural hedge dalam kondisi ini. Sebaliknya, sektor perbankan besar dan emiten dengan eksposur utang valuta asing atau ketergantungan impor akan menghadapi tekanan berlapis, baik dari sisi margin maupun valuasi,” paparnya.

Di tengah dinamika tersebut, proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia yang direvisi turun menjadi 4,7 persen turut menambah lapisan risiko terhadap prospek pasar saham domestik.

“Revisi ini memperkuat narasi bahwa tekanan eksternal mulai merembes ke fundamental domestik, baik melalui inflasi, daya beli, maupun ekspektasi pertumbuhan laba korporasi,” kata Kusfiardi.

Baca Juga: Digagas Prabowo, Sekolah Rakyat Selamatkan Anak Yatim Sejak Bayi yang Sempat Putus Sekolah dan Hobi Tawuran

Ia menegaskan bahwa pasar saat ini tidak lagi bergerak dalam rezim broad-based rally, melainkan telah memasuki fase stock picker’s market.

“Pasar tidak lagi naik bersama-sama. Investor harus semakin selektif karena pergerakan akan sangat ditentukan oleh sensitivitas masing-masing sektor terhadap suku bunga, nilai tukar, dan harga komoditas,” ujarnya.

Kusfiardi menyimpulkan bahwa penguatan IHSG di akhir pekan lebih mencerminkan relief rally ketimbang perubahan tren yang solid.

“Reli yang terjadi saat ini lebih didorong oleh sentimen jangka pendek, bukan oleh perbaikan fundamental. Dalam konteks ini, risiko bear market rally sangat tinggi—yakni kondisi di mana pasar naik cepat namun tidak bertahan lama dan rentan terkoreksi kembali,” jelasnya.

Baca Juga: Akselerasi Budaya Literasi, Arpusda Lamongan Gelar Lomba Video Konten Kreatif 2026

Kelanjutan dari dinamika tersebut, Kusfiardi memproyeksikan bahwa pergerakan IHSG dalam sepekan ke depan cenderung berada dalam fase konsolidasi dengan bias melemah. Penguatan di akhir pekan lalu dinilai belum memiliki fondasi yang kuat karena belum didukung oleh arus masuk dana asing maupun stabilisasi nilai tukar rupiah. Dalam kondisi ini, pasar berpotensi bergerak terbatas (range-bound) dengan volatilitas yang tetap tinggi.

Ia menekankan bahwa arah rupiah akan menjadi faktor penentu utama dalam jangka pendek. Selama nilai tukar masih berada di bawah tekanan dan dolar AS tetap kuat, ruang kenaikan IHSG diperkirakan akan terbatas. Di sisi lain, potensi aksi ambil untung pada awal pekan juga dapat menambah tekanan terhadap indeks, terutama setelah reli yang bersifat teknikal.

Baca Juga: Kinerja Angkutan Barang KAI Daop 7 Madiun Tumbuh Positif di Triwulan I 2026 dengan On Time Performance 99.20 Persen

Kusfiardi menambahkan bahwa pola pergerakan pasar akan semakin selektif, dengan sektor berbasis komoditas dan emiten berpendapatan dolar AS relatif lebih bertahan. Sebaliknya, sektor yang sensitif terhadap suku bunga dan likuiditas diperkirakan tetap tertekan. Dalam situasi ini, investor disarankan untuk bersikap defensif, memanfaatkan kenaikan untuk profit taking, serta menunggu koreksi sebagai momentum masuk yang lebih ideal.

Halaman:

Tags

Terkini

Alasan Bitcoin Gagahi Emas dan Balik ke US$70 Ribu

Kamis, 26 Maret 2026 | 07:14 WIB