ekonomi-bisnis

Ekonom: Free Float Rendah Buat Pasar Saham RI Rentan Manipulasi

Minggu, 1 Februari 2026 | 19:14 WIB
Pengamat ekonomi Dr. Noviardi Ferzi menilai rendahnya free float saham pada banyak emiten di Bursa Efek Indonesia (BEI). Foto istimewa pandhalungan.com

Pandhalungan.com, JAKARTA – Anjloknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hingga 8 persen pada perdagangan 28 Januari 2026 yang memaksa Bursa Efek Indonesia (BEI) menghentikan sementara perdagangan saham dinilai sebagai puncak krisis kepercayaan pasar.

Pengamat ekonomi Dr. Noviardi Ferzi menilai rendahnya free float saham pada banyak emiten di Bursa Efek Indonesia (BEI) telah menjadi masalah struktural serius yang membuat pasar modal nasional rentan manipulasi, tidak efisien, dan rawan krisis kepercayaan.

Baca Juga: Bupati Gus Fawait: Optimistis Persid Jember Bangkit, Persid Baru Menuju Persid Maju

Menurut Noviardi, dominasi pemegang saham pengendali yang terlalu besar, dengan porsi saham publik yang minim, menyebabkan mekanisme pasar kehilangan fungsi utamanya sebagai sarana pembentukan harga yang adil dan berbasis fundamental.

“Ketika free float terlalu kecil, pasar menjadi dangkal. Harga saham mudah digerakkan, likuiditas semu, dan investor ritel berada pada posisi paling rentan. Ini bukan pasar yang sehat,” tegas Noviardi, Minggu, 1 Februari 2026.

Baca Juga: Peringatan Satu Abad NU, Bupati Jember Gus Fawait Berharap Bisa Memberikan yang Terbaik untuk Jember

Ia menilai, fenomena lonjakan harga saham secara ekstrem yang kerap diikuti kejatuhan tajam bukan semata persoalan perilaku investor, melainkan konsekuensi langsung dari struktur kepemilikan saham yang timpang.

Dalam kondisi tersebut, pergerakan harga lebih ditentukan oleh kelangkaan saham di publik ketimbang kinerja perusahaan.

Pengamat ekonomi Dr. Noviardi Ferzi menilai rendahnya free float saham pada banyak emiten di Bursa Efek Indonesia (BEI). Foto istimewa pandhalungan.com

Lebih jauh, Noviardi mengingatkan bahwa free float kecil juga menciptakan distorsi persepsi nilai pasar. Kapitalisasi saham terlihat besar, namun tidak didukung likuiditas memadai, sehingga berisiko menimbulkan gejolak sistemik ketika terjadi aksi jual besar atau perubahan sentimen global.

Baca Juga: SMPN 9 Jember Gelar Diksar Pertolongan Pertama di Markas PMI

“Pasar modal Indonesia terlihat besar di permukaan, tetapi rapuh di dalam. Begitu terjadi tekanan, saham-saham berfree float kecil paling cepat ambruk dan menyeret sentimen IHSG,” ujarnya.

Ia juga menyoroti implikasi global dari persoalan ini. Dalam standar internasional, free float merupakan indikator utama tata kelola dan kedalaman pasar. Ketika porsi saham publik tidak memadai, minat investor institusi asing akan menurun karena risiko likuiditas dan manipulasi yang tinggi.

Baca Juga: Presiden Prabowo Akan Buka Rakornas Pemerintah Pusat dan Daerah Tahun 2026 di Sentul International Convention Center (SICC), Kabupaten Bogor, Jawa Bar

Halaman:

Tags

Terkini

Alasan Bitcoin Gagahi Emas dan Balik ke US$70 Ribu

Kamis, 26 Maret 2026 | 07:14 WIB