Pandhalungan.com, JEMBER – Jarak yang cukup dekat dengan bibir pantai selatan sekitar 100 meter saja menjadi alasan Sekolah Menengah Pertama Negeri 03 Puger, Jember, Jawa Timur Jum’at pagi (30/01/26) menggelar Simulasi Tsunami yang menjadi bagian dari program Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB). Dengan simulai bencana tsunami diharapkan anak anak mengerti langkah apa saja yang harus dilakukan jika benar terjadi bencana di daerahnya.
Simulasi tersebut diikuti oleh seluruh siswa yang berjumlah 165 dan 13 guru yang ada di sekolah tersebut, kegiatan simulasi tsunami dilakukan usai senam dimana seluruh siswa siswi berkumpul dihalaman sekolah mereka. Simulasi diawali ketika guru dan siswa sedang mengikuti pelajaran sekolah.
“Berawal dari terjadinya gempa bumi di pesisir pantai selatan pulau jawa dimana anak anak dan guru mereka sedang melakukan proses belajar mengajar di ruang kelas,” ujar Nur Lailiyati Fasilitator PMR Madya SMPN 3 Jember. Saat gempa terjadi, anak anak dan guru langsung melindungi kepala mereka masing masing untuk menjaga agar bagian kepala terlindung dari reruntuhan atau ruangan.
Selanjutnya untuk menjaga keselamatannya, mereka berlindung dibawa meja sampai kondisi gempa berhenti dan menuju ke titik kumpul yang telah ditetapkan oleh sekolah. Jika ditemukan tanda tanda potensi tsunami, dengan mengikuti jalur evakuasi yang ada, anak anak diarahkan untuk menuju ke titik kumpul yang aman.
Baca Juga: Menteri Nusron Wahid Pimpin Rakor Fokus Evaluasi Capaian Program ILASPP
Pada simulasi bencana tsunami tersebut, seorang siswa yang mengalami luka luka mendapat pertolongan pertama dari Palang Merah Remaja yang ada disekolah sebelum dievakuasi dan mendapat tindakan medis baik dari puskesmas atau rumah sakit terdekat. “korban luka luka mendapat pertolongan pertama disekolah kemudian dibawa tempat pengobatan baik puskesmas maupun rumah sakit,” tambah Laily.
Dengan simulasi bencana tsunami di sekolah, siswa siswi akan mengetahui tindakan apa yang harus diketahui jika terjadi gempa bahkan berlanjut ke potensi tsunami apalagi bangunan sekolah berdekatan dengan perairan selatan pulau jawa yang menurut pakar zona megathrust jawa berpotensi memicu gempa hingga magnitudo 9,1 dan sejumlah zona lain seperti mentawai-siberut, mentawai-pagai dan enggano masing masing menyimpan potensi gempa hingga magnitudo 8,9.
“Dengan simulasi tadi saya bisa mengerti cara berlindung ketika terjadi gempa bumi saat ada di ruang kelas seperti melindungi kepala dengan tas kita, kemudian masuk ke kolong meja serta melindungi dan menjauhi dari kaca. Ketika gempa sudah reda kita ikuti petunjuk dari arahan dari guru yang ada di sekolah seperti keluar kelas tanpa berebutan untuk menuju ke titik kumpul,” kata Valentina Isabel, Siswi kelas 8A SMPN 3 Puger.
Kesiapsiagaan bencana tersebut sudah menjadi rencana dari pihak sekolah khususnya para guru untuk selalu mengingatkannya setiap hari agar edukasi yang didapatkan tersebut melekat dan bisa diterapkan juga di lingkungan sekitar tempat anak tinggal bersama orang tuanya.
Baca Juga: Sekolah-sekolah di Aceh Terus Dibersihkan, Siswa dan Guru Segera Beraktivitas Normal Lagi