Pandhalungan.com, Jember - Mengadopsi gaya komunikasi modern yang inklusif, Bupati Jember, Gus Fawait, melakukan terobosan dengan memanfaatkan platform livestreaming bertajuk Gus Bupati Menjawab, Jumat (10/4/2026). Langkah ini diambil sebagai upaya responsif untuk menjawab langsung berbagai keraguan, kritik, hingga isu miring yang berkembang di tengah masyarakat Jember.
Di hadapan ribuan penonton digital, Gus Fawait tampil tegas dan lugas, membuktikan bahwa transparansi pemerintah tidak lagi berjarak dengan rakyat. Sementara itu, sejumlah tokoh penting juga membersamai Gus Fawait.
Baca Juga: Pengucapan Sumpah Hakim Konstitusi Dan Keanggotaan Ombudsman RI : Disaksikan Presiden Prabowo
Yakni, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Jember Iqbal Reza Nugraha, Kepala Bapenda Jember Achmad Imam Fauzi, Kepala BPS Jember Peni Dwi Wahyu Winarsi, Guru Besar Ilmu Hubungan Internasional FISIP Unej Prof. Agus Trihartono, Dosen Ilmu Pemerintahan FISIP UNMUH Jember Dr. Iffan Gallant El Muhammady, Jurnalis Berita Jatim Oryza A. Wirawan, dan Dosen Universitas Brawijaya Dr. Irfan Kharisma Putra.
Dalam pembukaannya, Gus Fawait menegaskan bahwa metode livestreaming dipilih agar tidak ada sekat informasi. "Kami hadir di sini bukan untuk retorika atau hiburan semata, tapi untuk memberikan kepastian. Publik berhak tahu apa yang sedang kita kerjakan dan mengapa kebijakan itu diambil," ujarnya.
Baca Juga: Kemenkumham Jatim Kunker Ke Jember, Penguatan Penyusunan Regulasi di Jember
Lebih lanjut, diskusi semakin hangat saat narasumber mulai mengulas sejumlah program yang menjadi perbincangan publik. Khususnya, Mlijo Cinta dan Bunga Desaku.
Program Mlijo Cinta, yang dirancang untuk penguatan ekonomi sektor mikro melalui pemberdayaan pedagang sayur keliling, mendapat pertanyaan kritis terkait efektivitas dan distribusi bantuannya. Masyarakat mempertanyakan apakah program ini benar-benar menyentuh akar rumput atau sekadar seremonial.
Baca Juga: Bupati Jember Resmi Terima Dokumen Rekomendasi dari DPRD atas LKPJ 2025
Menanggapi hal tersebut, Gus Fawait memaparkan data konkret. Dia menjelaskan bahwa Mlijo Cinta bukan hanya soal bantuan modal, melainkan ekosistem ekonomi yang menghubungkan produsen lokal dengan pasar domestik secara langsung.
Sementara itu, program Bunga Desaku (Bupati Ngantor di Desa dan Kelurahan) juga tak luput dari sorotan. Muncul pertanyaan mengenai urgensi bupati turun ke desa-desa di tengah tantangan birokrasi digital. Sebagian pihak menganggap ini sebagai beban anggaran, namun Gus Fawait menepisnya dengan argumen yang sangat rasional.
"Bunga Desaku adalah cara kami menjemput masalah sebelum menjadi bom waktu. Banyak persoalan di desa yang tidak bisa dipahami hanya dari balik meja di kantor kabupaten. Dengan hadir langsung, keputusan bisa diambil dalam hitungan jam, bukan minggu," tegasnya saat menjawab salah satu komentar netizen.
Baca Juga: Project Launching Pelabuhan Palembang Baru, Kementerian ATR/BPN Jadi Pendukung Utama